Pengantar Ilmu Pertanian Berkelanjutan

Pertanian adalah sejenis proses produksi yang didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan (Satari, 1999). Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, mesin pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usahatani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh “petani tembakau” atau “petani ikan”. Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan karena sektor – sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Pertanian akan selalu memerlukan bidang permukaan bumi yang luas yang terbuka terhadap sorotan sinar matahari. Pertanian rakyat diusahakan di tanah-tanah sawah, ladang dan pekarangan. Di dalam pertanian rakyat hampir tidak ada usahatani yang memproduksi hanya satu macam hasil saja. Dalam satu tahun petani dapat memutuskan untuk menanam tanaman bahan makanan atau tanaman perdagangan. Alasan petani untuk menanam bahan makanan terutama didasarkan atas kebutuhan makan untuk seluruh keluarga petani, sedangkan alasan menanam tanaman perdagangan didasarkan atas iklim, ada tidaknya modal, tujuan penggunaan hasil penjualan tanaman tersebut dan harapan harga.

Buku ini memberikan gambaran tentang kondisi pertanian di Indonesia pada umumnya. Selain itu tulisan dalam buku ini sebagai pengantar para pembaca khususnya mahasiswa yang akan mempelajari/mendalami ilmu-ilmu pertanian secara umum merupakan buku yang sangat berarti bagi berbagai pihak, baik bagi mahasiswa fakultas pertanian semua jurusan, terlebih bagi jurusan Agribisnis serta orang yang tertarik untuk mengerti tentang pertanian. Buku ini juga memberikan dasar-dasar pemahaman mengenai ilmu pertanian yang diperlukan bagi mahasiswa yang belajar ilmu pertanian, khususnya pada tingkat S-1. Mengingat cakupan ilmu pertanian yang luas, maka yang dibahas dalam buku ini dikhususkan pada pertanian berkelanjutan dan model pertanian berkelanjutan, dibahas dimulai dari sejarah timbulnya pertanian sampai Pertanian Berkelanjutan dan Pembangunan Pedesaan. Buku ini dibagi menjadi beberapa gatra utama yaitu: (1) sejarah perkembangan pertanian, yang membahas mengenai sistem pertanian berpindah hingga penggunaan bioteknologi, (2) unsur-unsur pertanian, membahas mengenai proses produksi, petani dan usahatani, (3) syarat pembangunan pertanian,  membahas mengenai pasar, teknologi, sarana dan transportasi, (4) faktor pelancar pembangunan pertanian, (5) pembangunan pertanian dan pembangunan ekonomi, membahas mengenai transformasi structural dan leading sektor, (6) kebijakan pembangunan pertanian, membahas mengenai kebijakan agribisnis dan agroindustri, (7) tantangan pertanian industrial, (8) model system pertanian berkelanjutan, (9) paradimagma baru pertanian, (10) pembangunan pertanian dan pembangunan pedesaan.

Teknologi Pengolahan Sayuran

Sayuran sebagai salah satu hasil pertanian yang memiliki banyak manfaat yaitu untuk meningkatkan kesehatan dan metabolisme tubuh serta pencernaan yang sehat. Sayuran juga mengandung banyak vitamin, mineral dan serat yang cukup baik bagi tubuh dan kesehatan manusia.
Sekalipun banyak orang yang menganggap bahwa rasa sayuran itu pahit dan kurang sedap untuk dikonsumsi. Tetapi jika melihat ke belakang bahwa budaya makan sayuran sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sebelum ada ilmu tentang gizi yang memberitahu manfaatnya bagi kesehatan.
Kita bisa memulai dengan cara mengolahnya menjadi semakin enak, contoh yang paling mudah dengan salad, pecel, atau mungkin sampai rujak sayur dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana jadinya jika manusia makan tanpa sayuran? Tentu saja kita harus mengkonsumsi sayuran setiap hari meski tidak banyak. Sayuran yang kita makan tidak perlu mahal atau yang sulit ditemukan karena sebenarnya banyak jenis sayuran yang murah, bergizi, dan mudah untuk ditemukan dimana dan kapan saja setiap saat.

Buku ini disusun dan dipersiapkan sebagai salah satu pelengkap yang dapat digunakan oleh mahasiswa dalam memperdalam ilmu di bidang pertanian. Isi buku ini menyajikan tentang bagaimana jenis-jenis sayuran yang dapat diolah menjadi produk sehingga dapat dinikmati dalam jangka waktu yang lebih lama serta memiliki nilai ekonomis.

Analisis Usahatani Perikanan Nelayan Patorani

Latar Belakang Pembangunan Sektor Perikanan di Indonesia tidak terlepas dari definisi Perikanan itu sendiri. Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya. Mulai dari pra produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Semua kegiatan dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Pengertian ini termaktub dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan.

Potensi besar perikanan budidaya dapat dilakukan pada (1) budidaya laut terdiri dari budidaya ikan, moluska dan rumput laut; (2) budidaya air payau; (3) air tawar yang terdiri dari perairan umum (danau, waduk, sungai dan rawa), kolam air tawar dan mina padi sawah (KKP, 2010). Perikanan memberikan kontribusi terhadap PDB berdasarkan harga berlaku selama periode 2004-2008 berkisar 2,15% – 2,77% (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2008).

Menurut Kurniawan (2010) pembangunan di sektor kelautan dan perikanan, tidak boleh dipandang sebagai hanya sebagai cara untuk menghilangkan kemiskinan dan pengangguran. Karena sektor kelautan dan perikanan merupakan basis perekonomian nasional. Maka sudah sewajarnya jika sektor perikanan dan kelautan ini dikembangkan menjadi sektor unggulan dalam kancah perdagangan internasional. Dengan demikian, dukungan sektor industri terhadap pembangunan di sektor perikanan dan kelautan menjadi suatu hal yang bersifat keharusan. Karena itu, pembangunan perikanan dan kelautan dan industri bukanlah alternatif yang dipilih. Namun adalah komplementer dan saling mendukung baik bagi input maupun output. Hal ini menjadi latar belakang pembangunan sektor perikanan di Indonesia.

Ilmu usahatani dapat diartikan sebagai kegiatan pertanian rakyat yang terhimpun dari berbagai sumber daya alam (Dr. Mosher). Pengertian usahatani adalah pengelolaan sumber tenaga kerja, sumber daya alam, permodalan dan kemampuan lainnya untuk menghasilkan suatu produk pertanian secara efektif dan efisien (Kadarsan).

Memperhatikan beberapa ahli yang menyebtkan beberapa pengertian tentang usahatani, dapat dikatakan bahwa usaha tani adalah segala bentuk pengorganisasian dan pengelolaan aset serta tata cara yang dilakukan dalam bidang pertanian dengan tujuan untk meningkatkan kesejahteraan dan memperbaiki taraf hidup para petani.



Model Pengelolaan Mangrove Berbasis Ekologi dan Ekonomi

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang berperan penting bagi keberlanjutan kehidupan berbagai biota yang hidup di wilayah pesisir. Salah satu fungsi ekologis ekosistem mangrove yang paling penting dalam bidang perikanan adalah sebagai penyedia unsur hara bagi ekosistem perairan pesisir  dan sekitarnya (Dahuri et al., 1996). Pada umumnya organisme air baik organisme air tawar maupun organisme air asin memanfaatkan  ekosistem mangrove sebagai habitat baik bersifat paten maupun bersifat sementara atau transit.

Ekosistem mangrove mempunyai berbagai fungsi yang sangat kompleks baik secara ekologis maupun secara ekonomis serta sosial. Ekosistem mangrove  dalam memainkan peranan ekologisnya sebagai penyangga antara ekosistem daratan dan lautan yang saling berinteraksi dengan ekosistem pesisir lainnya, seperti estuaria, padang lamun dan terumbu karang menyebabkan ekosistem mangrove rentan terhadap perubahan baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif (Bengen 2004).

Sejak awal tahun 1980  udang windu menjadi primadona dan menempati urutan kedua komoditi ekspor setelah migas sebagai devisa negara Indonesia, sehingga dari tahun ke tahun  mengalami peningkatan permintaan dari berbagai negara pengimpor. Untuk memenuhi permintaan dari berbagai negara tersebut, maka dilakukan berbagai upaya dalam meningkatkan produksi udang windu baik melalui penangkapan di laut maupun melalui usaha budidaya di tambak (Poernomo 1992).

Namun secara bersamaan dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1980, tentang larangan pengoperasian pukat harimau di perairan umum Indonesia yang bertujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya hayati perairan khususnya udang windu, membuat produksi udang windu melalui usaha penangkapan di laut mengalami penurunan. Satu-satunya alternatif untuk meningkatkan produksi udang windu guna memenuhi permintaan dari berbagai negara pengimpor adalah usaha budidaya udang di tambak baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi (Nurdjana 1985).

Kedua upaya tersebut diatas telah membawa dampak negatif terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan pesisir baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Upaya ekstensifikasi telah berdampak terhadap penurunan luasan ekosistem mangrove di Indonesia. Sedangkan upaya intensifikasi telah berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan pesisir berupa pencemaran air yang akan menjadi salah satu pemicu terjadinya eutrofikasi (Damar, 2008).

Luas ekosistem mangrove di Indonesia setiap tahun mengalami penurunan karena dikonversi untuk berbagai peruntukan yaitu: pada tahun 1982 seluas 5.209.543 ha, tahun 1987 seluas 3.235.700 ha, tahun 1993 seluas 2.496.185 ha, dan tahun 1999 seluas  2.346.414 ha. Berdasarkan data ini menunjukkan bahwa selama 17 tahun  (1982-1999) luas ekosistem mangrove di Indonesia mengalami penurunan sekitar 54% atau 3.2% pertahun (Sofyan, 2001).

Secara umum lahan tambak bekas budidaya intensif diIndonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, mengalami kekurangan unsur hara. Halini terjadi sebagai dampak dari penggunaan berbagai bahan kimia yang tidakdibarengi dengan pengelolaan ramah lingkungan yang menekankan bagaimana memanfaatkansumberdaya alam secara ekonomi optimal dan secara ekologi berkelanjutan.

Buku ini berjudul Model Pengelolaan Mangrove Berbasis Ekologi dan Ekonomi, merupakan suatu model pengelolaan  yang mengintegrasikan pengelolaan hutan mangrove dan budidaya tambak berbasis daya dukung lingkungan dan kelayakan usaha yang menyelaraskan kelestarian fungsi ekologi dan fungsi ekonomi.

Buku ini menyajikan serangkaian materiyang diharapkan membawa pembaca untuk memahami kondisi wilayah pesisir saatyang ini telah mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat berbagaipemanfaatan yang tidak ramah lingkungan. Didalambuku ini juga diulas tentang keterkaitan ekosistem mangrove, padang lamun danterumbu karang dari aspek fisik, kimia dan biologi, serta nilai manfaat ekonomiekosistem mangrove ditinjau dari aspek  ekologi,ekonomi dan sosial. Bagian akhir dari buku ini mengulas tentang bagaimanamemanfaatkan sumberdaya ekosistem mangrove yang secara ekonomis menguntungkan dansecara ekologis berkelanjutan dengan  menyajikandesain model pengelolaan mangrove yang mengintegrasikan kelestarian fungsiekologi dan ekonomi.