Antologi Cerpen; Lika Liku Kehidupan

Syukur Alhamdulillah editor panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa atas selesainya buku antologi cerpen “Lika-liku Kehidupan” yang ditulis oleh siswa tuna rungu di SLB Negeri Pembina Makassar Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Realitas yang terjadi dewasa ini adalah semakin meningkatnya penyandang disabilitas dari tahun ke tahun. Baik tuna daksa, tuna rungu, tuna grahita, tuna wicara, maupun autis. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum tahun 2015, mengungkapkan bahwa penyandang disabilitas ketika mengetahui dirinya dalam keadaan cacat, maka akan menimbulkan depresi, penolakan, dan kecemasan bahkan sampai melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, dilakukanlah pelatihan menulis cerpen oleh para mahasiswa. Cerita pendek dianggap mampu memberikan sensasi, karena penuangannya penuh dengan imajinasi dan dikemas secara sederhana.

Kumpulan cerpen yang berjudul “Lika Liku Kehidupan” merupakan produk yang dihasilkan dari Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat, yang dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Antologi Cerpen ini, berisi kisah hidup yang benar-benar nyata dari penyandang disabilitas khususnya tuna rungu yang ada di SLB Negeri Pembina Makassar Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Dengan terbitnya kumpulan hasil karya siswa tuna rungu ini, diharapkan dapat membangkitkan semangat dan motivasi agar tetap berkarya. Antologi Cerpen ini, merupakan bentuk kepedulian mahasiswa bagi penyandang disabilitas yang mengalami penurunan mental akibat kekurangan yang dimiliki. Selain itu, juga melatih kreativitas anak tuna rungu dalam menulis karya sastra yang dapat menginspirasi banyak orang.

Semoga karya sastra ini, bermanfaat bagi pembaca. Akhirnya, segala apa yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

____    Dr. Sulastriningsih, Djumingin, M.Hum.

Suatu hari Aku dilahirkan pada bulan Januari, saat Aku dilahirkan Aku mendengar sesuatu yang tidak seorang pun yang bisa mendengarnya. Ketika Aku tumbuh seusia anak-anak SD, Aku bisa mengobrol dengan mereka semua, menceritakan sesuatu yang lucu dan bermain pada pagi hari sampai malam itu membuatku senang dan bahagia. Tetapi, orang tuaku memarahiku di karenakan bermain pada pagi hari dan pulang di malam hari itu membuat mereka khawatir. Jadi, mereka berdua memarahiku tapi amarahnya itu Aku abaikan, karena Aku ingin memiliki banyak moment yang bahagia. Keesokan harinya, Aku keluar dari rumah untuk bermain petak umpet bersama teman. Saat Aku bermain petak umpet, Aku bersembunyi di rumah tetanggaku. Teman-temanku yang lain sudah ditemukan. Namun, Aku belum ditemukan. Teman-temanku sudah mencariku di mana-mana, teman-temanku berteriak “sudah cukup, keluarlah kawan, Aku sudah lelah mencarimu“.

Sirene tornado, Aku mengetahui suara itu. Suara itu adalah suara pemadam kebakaran yang membasmi api dan itupun membuat diriku senang mendengar suara itu, tetapi tiba-tiba saja Aku pingsan.

Tiga jam kemudian di rumah sakit.Aku mulai sadar, tetapi kesadaranku ini membuat diriku tak ingat apa-apa soal kejadian itu. Aku melihat kedua orang tuaku, mereka berdua menghampiriku.