ILMU USAHATANI; TEORI DAN PENERAPAN

Prof. Bachtiar Rivai (1980) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis, politis maupun teritorial sebagai pengelolanya.

Menurut Soekartawi (1995) bahwa ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut mengeluarkan output yang melebihi input.

Sebaliknya menurut Mosher (1968), Usahatani merupakan pertanian rakyat dari perkataan farm dalam bahasa Inggris.Dr. Mosher memberikan definisi farm sebagai suatu tempat atau sebagian dari permukaan bumi di mana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik, penyakap atau manajer yang digaji. Atau usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat pada tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.

Menurut Prawirokusumo (1990) Ilmu usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumber daya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan, atau perikanan. Selain itu, juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana membuat dan melaksanakan keputusan pada usaha pertanian, peternakan atau perikanan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.

Usahatani adalah salah satu kegiatan mengorganisir sarana produksi dan teknologi dalam suatu usaha yang menyangkut dibidang pertanian untuk menghasilkan suatu komoditas pertanian. Salah satu ciri usahatani adalah adanya ketergantungan kepada keadaan alam dan lingkungan. Oleh sebab itu, untuk memperoleh produksi yang maksimal, petani harus mampu memadu faktor-faktor produksi tenaga kerja, pupuk, dan bibit yang digunakan. Ketiga faktor produksi ini saling berkaitan satu sama lain dalam mempengaruhi produksi untuk menghasilkan produktivitas yang baik dan optimal.

Petani sebagai pelaku utama, ternyata dalam beberapa hasil penelitian justru pengetahuan mereka tentang teknologi, analisis usahatani itu sendiri sangat kurang. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani yang cukup lama yang membuat mereka masih sulit mengadopsi inovasi teknologi pertanian yang sudah maju. Bukan hanya dari segi teknik dan peralatan usahatani, tetapi juga dari inovasi sistem budidaya usahatani yang baru.

PENGANTAR PERLINDUNGAN TANAMAN

Dalam proses budidaya tanaman banyak kendala yang kita hadapi, salah satu kendala tersebut adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Salah satu contoh serangan penyakit yang pernah dicatat dunia internasional adalah penyakit hawar daun kentang yang ditimbulkan oleh cendawan Phytophthora infestans. Penyakit ini mempunyai makna sejarah yang penting di Eropa, karena pada periode tahun 1830-1845 penyakit ini menimbulkan kerusakan pada pertanaman kentang di Eropa. Kerusakan yang ditimbulkan penyakit tersebut menimbulkan kelaparan besar di Irlandia dan beberapa Negara di Eropa yang mengakibatkan ratusan ribu penduduk meninggal. Peristiwa ini dikenal sebagai The Great Famine (Romero dan Erwin, 1969; Semangun, 1989). Sejak saat itu, penyakit ini telah menjadi kendala utama produksi tanaman kentang terutama di daerah yang beriklim sejuk dan lembab.

Sudah sejak lama keberadaan herbivora yang kemudian kita sebut sebagai hama berada di bumi. Pada zaman Nabi Musa telah diceritakan dalam kitab suci Al Quran bahwa salah satu bentuk teguran Allah SWT terhadap keangkuhan firaun kala itu adalah ladang gandum yang begitu luas diserang oleh belalang sehingga penduduk mesir gagal panen. Inilah sejarah tertua mengenai serangan hama terhadap tanaman yang dibudidayakan oleh manusia.

Untuk kasus di Indonesia, pada tahun 1980-an pohon lamtoro didatangkan dari Amerika ke Indonesia. Secara tidak sengaja, kutu loncat Heteropsylla cubana yang merupakan hama lamtoro juga terikut dan mengakibatkan daun-daun lamtoro mati. Keberadaan hama tersebut sulit dikendalikan karena merupakan hama baru di Indonesia. Usaha pengendalian kutu loncat lamtoro dilakukan dengan cara mendatangkan predator Curinus coeruleus Mulsant yang berasal dari Hawai karena merupakan predator dari kutu loncat Heteropsylla cubana. Kasus tersebut kemudian meningkatkan kewaspadaan pemerintah Indonesia dalam memasukkan tanaman baru ke dalam negara kita karena satu serangga mampu menghancurkan hamparan tanaman jika kondisi lingkungannya sesuai dan memungkinkan mereka berkembangbiak hingga populasinya melebihi ambang batas. Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi outbreak sehingga gagal panen yang berujung pada stabilitas pangan penduduk.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya menjaga tanaman budidaya dari ancaman, seperti hama ataupun penyakit. Tanaman bukan hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tanaman juga merupakan satu-satunya produsen bagi makhluk hidup lainnya dimuka bumi yang bisa dimanfaatkan sebagai penghasil oksigen, bahan baku obat-obatan, kosmetika, tekstil, bahan papan dan sumber keindahan (tanaman hias).