INTI SARI SOSIOLOGI PERTANIAN

Setiap manusia sejak lahir di dunia, telah berhubungan dengan orangtua, meningkat usianya bertambah luas pergaulannya dengan manusia lain di dalam masyarakat. Selama hidupnya, telah menjadi anggota masyarakat dan sudah memiliki pengalaman-pengalaman dalam hubungan sosial atau hubungan antar manusia. Mereka menyadari bahwa kebudayaan dan peradaban merupakan bagian dari pengalaman-pengalaman dalam suatu hubungan sosial.

Secara sepintas manusia mengetahui bahwa mereka memiliki persamaan-persamaan, sedangkan dalam hal lain mereka memiliki sifat-sifat yang khas antara individu yang satu dengan yang lain. Semuanya merupakan pengetahuan yang bersifat sosiologis karena ikut sertanya mereka di dalam hubungan-hubungan sosial dan membentuk kebudayaan masyarakatnya dan kesadaran akan adanya kebersamaan dan perbedaan dengan orang-orang lain memberikan gambaran tentang objek yang dipelajari yaitu sosiologi.

Pemikiran terhadap masyarakat lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang kemudian dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di benua Eropa. Sosiologi pada tahun 1839 berasal dari kata latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Jadi sosiologi “berarti berbicara mengenai masyarakat”.

Sejarah sosiologi berasal dari ilmu filsafat yang lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi menjadi ilmu berdiri sendiri karena meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Sosiologi, menurut Comte, harus dibentuk berdasarkan pengamatan terhadap masyarakat bukan merupakan spekulasi.

Sosiologi pertanian merupakan cabang dari ilmu sosiologi, yang merupakan suatu disiplin ilmu yang lahir dan berkembang di Eropa (khususnya di Jerman). Sosiologi Pertanian lahir dan berkembang sebagai respon terhadap perkembangan yang terjadi di Barat-Utara saat ini, khususnya dengan semakin menipisnya perbedaan antara desa dan kota.

Menurut Ulrich Planck (1990), sosiologi pertanian membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Sosiologi pertanian sebenarnya sama dengan sosiologi pedesaan, tetapi hanya sejauh penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja.sosiologi pertanian adalah penduduk yang bertani tanpa memperhatikan tempat tinggal. Selanjutnya menurut Ulrich Planck (1990), sosiologi pertanian adalah undang-undang pertanian, organisasi sosial  pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk organisasi pertanian, terutama koperasi pertanian, dan sebuah aspek penting yakni posisi petani dalam masyarakat.

Sosiologi pertanian memfokuskan mempelajari tentang aspek-aspek sosial kehidupan masyarakat pedesaan antara lain mencakup proses-proses, interaksi dan struktur yang terjadi di masyarakat pedesaan yang sebagian besar berprofesi dalam bidang pertanian.

Adapun tujuan sosiologi pertanian adalah sebagai berikut:

  1. Memahami masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan menelaah hubungan-hubungannya.
  2. Memahami dan menganalisis tingkah laku, sikap, perasaan, motif dan kegiatan petani yang pada umumnya hidup dilingkungan pedesaan, sehingga memperbaiki kehidupan masyarakat pedesaan dan pertanian pada khususnya.

Sedangkan kegunaan sosiologi pertanian adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan data mengenai struktur pedesaan. Kecenderungan dan perkembangan sosial, harapan, dan tuntutan meraka dalam perencanaan.
  2. Sosiologi pertanian dapat membantu para policy maker dalam menentukan kebijakan pembangunan pertanian.