PENGANTAR PERLINDUNGAN TANAMAN

Dalam proses budidaya tanaman banyak kendala yang kita hadapi, salah satu kendala tersebut adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Salah satu contoh serangan penyakit yang pernah dicatat dunia internasional adalah penyakit hawar daun kentang yang ditimbulkan oleh cendawan Phytophthora infestans. Penyakit ini mempunyai makna sejarah yang penting di Eropa, karena pada periode tahun 1830-1845 penyakit ini menimbulkan kerusakan pada pertanaman kentang di Eropa. Kerusakan yang ditimbulkan penyakit tersebut menimbulkan kelaparan besar di Irlandia dan beberapa Negara di Eropa yang mengakibatkan ratusan ribu penduduk meninggal. Peristiwa ini dikenal sebagai The Great Famine (Romero dan Erwin, 1969; Semangun, 1989). Sejak saat itu, penyakit ini telah menjadi kendala utama produksi tanaman kentang terutama di daerah yang beriklim sejuk dan lembab.

Sudah sejak lama keberadaan herbivora yang kemudian kita sebut sebagai hama berada di bumi. Pada zaman Nabi Musa telah diceritakan dalam kitab suci Al Quran bahwa salah satu bentuk teguran Allah SWT terhadap keangkuhan firaun kala itu adalah ladang gandum yang begitu luas diserang oleh belalang sehingga penduduk mesir gagal panen. Inilah sejarah tertua mengenai serangan hama terhadap tanaman yang dibudidayakan oleh manusia.

Untuk kasus di Indonesia, pada tahun 1980-an pohon lamtoro didatangkan dari Amerika ke Indonesia. Secara tidak sengaja, kutu loncat Heteropsylla cubana yang merupakan hama lamtoro juga terikut dan mengakibatkan daun-daun lamtoro mati. Keberadaan hama tersebut sulit dikendalikan karena merupakan hama baru di Indonesia. Usaha pengendalian kutu loncat lamtoro dilakukan dengan cara mendatangkan predator Curinus coeruleus Mulsant yang berasal dari Hawai karena merupakan predator dari kutu loncat Heteropsylla cubana. Kasus tersebut kemudian meningkatkan kewaspadaan pemerintah Indonesia dalam memasukkan tanaman baru ke dalam negara kita karena satu serangga mampu menghancurkan hamparan tanaman jika kondisi lingkungannya sesuai dan memungkinkan mereka berkembangbiak hingga populasinya melebihi ambang batas. Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi outbreak sehingga gagal panen yang berujung pada stabilitas pangan penduduk.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya menjaga tanaman budidaya dari ancaman, seperti hama ataupun penyakit. Tanaman bukan hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tanaman juga merupakan satu-satunya produsen bagi makhluk hidup lainnya dimuka bumi yang bisa dimanfaatkan sebagai penghasil oksigen, bahan baku obat-obatan, kosmetika, tekstil, bahan papan dan sumber keindahan (tanaman hias).

Tentang ISBN

PENGERTIAN ISBN

ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.

ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yan berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. Perpustakaan Naasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.

ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yan berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. Perpustakaan Naasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

FUNGSI ISBN

  1. Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit
  2. Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku
  3. Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN disebarkan oleh Badan Nasional ISBN Indonesia di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di London

STRUKTUR ISBN

Nomor ISBN terdiri dari 13 digit dan dibubuhi huruf ISBN didepannya. Nomor tersebut terdiri atas 5 (lima) bagian. Masing-masing bagian dicetak dengan dipisahkan dengan tanda hyphen (-). Kelompok pembagian nomor ISBN ditentukan dengan struktur sebagai berikut:

Contoh : ISBN 978-602-8519-93-9

  • Angka pengenal produk terbitan buku dari EAN (Prefix identifier) = 978
  • Kode kelompok (group identifier) = 602 (Default)
  • Kode penerbit (publisher prefix) = 8519
  • Kode Judul (title identifier) = 93
  • Angka pemeriksa (check digit) = 9
Terbitan yang dapat diberikan ISBN:
  1. Buku tercetak (monografi) dan pamphlet
  2. Terbitan Braille
  3. Buku peta
  4. Film, video, dan transparansi yang bersifat edukatif
  5. Audiobooks pada kaset, CD, atau DVD
  6. Terbitan elektronik (misalnya machine-readable tapes, disket, CD-ROM dan publikasi di Internet)
  7. Salinan digital dari cetakan monograf
  8. Terbitan microform
  9. Software edukatif
  10. Mixed-media publications yang mengandung teks
Terbitan yang tidak dapat diberikan ISBN:
  1. Terbitan yang terbit secara tetap (majalah, bulletin, dsb.)
  2. Iklan
  3. Printed music
  4. Dokumen pribadi (seperti biodata atau profil personal elektronik)
  5. Kartu ucapan
  6. Rekaman musik
  7. Software selain untuk edukasi termasuk game
  8. Buletin elektronik
  9. Surat elektronik
  10. Permainan
Pencantuman ISBN

ISBN ditulis dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca. Singkatan ISBN ditulis dengan huruf besar mendahului penulisan angka pengenal kelompok, pengenal penerbit, pengenal judul dan angka pemeriksa. Penulisan antara setiap bagian pengenal dibatasi oleh tanda penghubung, seperti contoh berikut:

ISBN 978-602-8519-93-9

Untuk terbitan cetak, ISBN dicantumkan pada:

  1. Bagian bawah pada sampul belakang (back cover)
  2. Verso (dibalik halaman judul) (halaman copyright)
  3. Punggung buku (spine) untuk buku tebal , bila keadaan memungkinkan

Sumber: http://isbn.perpusnas.go.id/Home/InfoIsbn