Potensi Wisata Alam dalam Kawasan Hutan, Pemanfaatan dan Pengembangan

Studi Kasus di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan

Pembangunan bidang lingkungan hidup dan kehutanan merupakan bagian penting dalam program pembangunan nasional. Menurut Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2015-2019 disebutkan bahwa pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan ditujukan guna memberikan manfaat secara ekologis pada pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari dan dapat memberikan manfaat secara ekonomi kepada masyarakat di sekitarnya. Secara khusus di bidang kehutanan diharapkan memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi, serta peningkatan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup, yang secara bersamaan akan memberikan kontribusi terhadap upaya-upaya peningkatan kualitas ekosistem dan kepastian wilayah hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berada di dalam maupun diluar kawasan hutan.  

Masyarakat yang telah lama tinggal di dalam kawasan secara turun temurun memenuhi kebutuhan hidupnya dari kawasan hutan. Bertambahnya jumlah masyarakat menyebabkan kebutuhan sumberdaya kawasan yang dimanfaatkan juga semakin bertambah. Kondisi tersebut sering kali memicu terjadinya konflik dan menuntut adanya suatu solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Salah satu pemanfaatan hutan secara tidak langsung dan dapat menjadi solusi konflik pemanfaatan sumberdaya hutan adalah pemanfaatan jasa lingkungan hutan untuk wisata.

Adanya tuntutan pemanfaatan kawasan hutan ini menuntut pengelolaan kawasan hutan agar lebih tertata dan memiliki manfaat yang lebih luas. Salah satu sektor yang dapat memanfaatkan kawasan hutan adalah pariwisata. Pengembangan sektor wisata selain untuk menata kawasan juga diharapkan dapat membawa dampak yang luas terhadap perekonomian di suatu daerah. Kementerian Pariwisata (2015) memberikan arahan dalam pengembangan pariwisata ditujukan untuk :1) meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestic dan manca negara; 2) meningkatkan devisa atau pemasukan bagi negara; 3) meningkatkan ekonomi masyarakat melalui industri jasa dan industri kreatif; dan 4) membuka lapangan kerja. Lebih lanjut, sektor pariwisata merupakan usaha ekonomi potensial dan sebagai pembangkit perekonomian suatu kota, propinsi, kabupaten, atau daerah tujuan wisatawan, yang diperoleh dari pengeluaran atau pembayaran yang dilakukan oleh wisatawan (Gufron, 2009).

Potensi di bidang kehutanan yang dapat dijadikan sebagai destinasi kunjungan wisata adalah wisata alam. Hutan memiliki berbagai kelebihan dalam hal obyek keindahan alam, fenomena dan bentang alamnya serta keanekaragaman flora dan fauna yang ada di dalamnya dapat dijadikan sebagai obyek wisata. Wisata alam dapat menjadi pilihan utama dalam pengembangan wisata di kawasan hutan, karena diyakini memiliki dampak yang kecil bagi lingkungan. Berbeda dengan wisata massal atau buatan yang seringkali aktivitas wisatanya merugikan bagi ekosistem lokasi wisata. Wisata alam atau ekowisata memiliki nilai lebih apabila dibandingkan dengan obyek wisata lainnya. Selain dapat menikmati panorama alamnya, di dalam obyek wisata alam terkandung makna dan upaya dalam membangun kesadaran pengunjung untuk mengenalkan pentingnya konservasi hutan dan lingkungan alam di sekitarnya. Pengenalan dilakukan dengan proses penyadaran baik langsung maupun tidak langsung tentang pentingnya kelestarian alam untuk mendorong terwujudnya kepedulian semua lapisan dan golongan masyarakat yang sadar akan lingkungan.

Wisata alam merupakan suatu kawasan yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan ekosistem beserta komponennya dan dapat dimanfaatkan untuk jasa lingkungan sebagai obyek wisata. Lokasi taman wisata alam seringkali berada di kawasan hutan, baik hutan lindung, hutan konservasi ataupun hutan produksi. Pada umumnya lokasi wisata alam juga berdekatan dengan pemukiman masyarakat, bahkan tidak jarang masyarakat sudah terlebih dahulu mendiami kawasan hutan sebelum ditetapkan sebagai taman wisata alam.

Fungsi hutan sebagai tempat wisata sangat baik dikembangkan agar hutan tetap lestari dan kecenderungan pasar terhadap meningkatnya permintaan wisata alam antara lain disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan kualitas lingkungan yang baik, sehingga tempat tempat wisata dengan suasana yang alami banyak dikunjungi wisatawan. Hal ini kemudian membangkitkan semangat untuk mengembangkan obyek-obyek wisata alam di berbagai daerah Indonesia terlebih dalam kondisi krisis ekonomi, sektor pariwisata diharapkan berperan sebagai penyelamat ekonomi, karena mampu menghasilkan pendapatan yang cukup tinggi (Mulyaningrum, 2005).

Pelaksanaan program pemanfaatan jasa lingkungan dalam bentuk wisata alam sudah banyak dilakukan, namun seringkali masyarakat kurang memperoleh manfaat. Melalui kegiatan wisata alam masyarakat dapat memperoleh keuntungan secara ekonomi sekaligus dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemanfaatan sumberdaya kawasan hutan. Untuk itu, dibutuhkan suatu bentuk program wisata yang memposisikan masyarakat bukan hanya sebagai objek, namun juga sebagai subjek dari kegiatan wisata tersebut.

Salah satu daerah yang giat mengembangkan potensi wisata adalah Kabupaten Maros Propinsi Sulawesi Selatan. Selain terkenal dengan Wisata Alam Bantimurung, saat ini Pemerintah Kabupaten Maros tengah mengembangkan Wisata Alam Ramang-ramang yang terletak di Desa Salenrang Kecamatan Lau berupa obyek wisata alam berbasis karst. Selain itu, terdapat obyek wisata lain seperti Bisseang Labboro di Kecamatan Simbang, wisata gua Leang-leang di Kecamatan Bantimurung, Agrowisata Pucak di Kecamatan Tompobulu, air terjun pumbunga di Kecamatan Tompobulu dan masih banyak lagi tempat-tempat wisata lainnya baik wisata berbasis alam, wisata religi, wisata budaya maupun wisata alam.

Tulisan ini bertujuan untuk untuk mengetahui potensi objek wisata alam dalam kawasan hutan, pemanfaatan dan prospek pengembangannya di Kabupaten Maros. Hasil kajian dan suvei menunjukkan terdapat beberapa potensi objek wisata alam yang terdapat pada kawasan hutan di Kabupaten Maros yaitu : 1) wisata alam air terjun (air terjun bantimurung, lacolla, saliu, jami, dan air terjun pumbunga), 2) wisata alam karst (ramang-ramang dan leang-leang), 3) wisata alam gua (gua salukang kallang dan gua pattunuang), 4) Camping ground (Desa Bonto Somba dan Bukit teletubbies), 5) Tracking dan Hiking (Kecamatan Tompobulu dan Kecamatan Cenrana), 6) Panorama alam dan spot selfie (bulu saukang, bulu tombolo dan bulu monrolo). Pemanfaatan potensi wisata terbagi dua yaitu yang sudah dimanfaatkan sebagai destinasi kunjungan wisata dan wilayah yang memiliki potensi tetapi belum dimanfaatkan. Pengembangan potensi wisata dalam kawasan hutan dengan menggunakan analisis SWOT antara lain : (a) Menjaga kawasan hutan dengan pelibatan masyarakat, (b) Mengembangkan obyek wisata lainnya sebagai penunjang seperti tracking, hiking dan wisata lain berbasis alam, (c) Membangun infrastuktur dan fasilitas wisata, (d) Membuat paket wisata berbasis alam yang meliputi Cenrana –  Bantimurung – Ramang-ramang – Tompobulu, (e) Melibatkan masyarakat sekitar secara aktif dalam pengelolaan ekowisata, dan (f) Melakukan promosi secara intensif di berbagai media cetak dan elektronik. Pengembangan wisata juga telah didukung dengan kebijakan baik dari Pemerintah Kabupaten Maros maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan serta didukung adanya fasilitas yang menunjang kenyamanan wisatawan.